Puisi sederhana untuk suamiku

Aku tak pandai berucap kata
Diriku juga tak cukup pintar menyampaikan maksud
Tak cakap pula menyerap makna

maafkan aku, sayang
seperti itulah yang selalu kukatakan
atas kesalahan demi kesalahan

Tidak apa-apa, sayang
Begitulah engkau berbisik lembut di telingaku
Fajar demi fajar

Terima kasih, kekasihku
Seperti itulah aku tersenyum padamu
atas kebahagiaan demi kebahagiaan

Engkau pantas mendapatkannya, cintaku
Begitulah engkau mengecup dahiku
Senja demi senja

Dan serasa ingin kubaktikan sepenuh jiwa ragaku
Mengucap nama-nama indahNya bersamamu
Pagi demi pagi

Serta ingin kuhabiskan seluruh hidupku
Sujud bersamamu di hadapan-Nya
Malam demi malam

“FR-031108″

Diterbitkan di:  on November 12, 2008 at 7:55 am Komentar (1)
Tags: , , , , ,

November…aku datang!

Tertatih ku dalam langkah

yang menuntunku kemana saja

jiwa meraba

Terseok ku dalam jejak

yang berlari mengikuti

nafas angin

Masih ingatkah kau, tentang

Puisi di bulan november

yang kurangkai di hari terakhir

kelembutan november yang tegar

setahun yang lalu.

Hari ini,

ia kembali lagi.

Ataukah,

aku yang datang.

Entahlah…

Aku dan November memang bersua kembali

Ia tampak sama seperti kemarin,

Wajahnya masih kelabu,

penuh dengan air mata musim dingin

Aku,

Apalah diriku,

Hanya saksi bagi waktu yang meninggalkannya.

Jangan takut, november

Aku akan bersamamu kali ini

menemani gelisahmu,

tatkala waktu bersiap mencampakkanmu,

dengan Desember yang memenjarakan mimpi

November…aku datang!

“FR-011108″

Diterbitkan di:  on November 2, 2008 at 5:55 am Komentar (1)
Tags: ,