Ngapain sih mendukung Palestina?

Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina, atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina? Pertanyaan tersebut diatas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari. Padahal, untuk yang belum mengetahui.. kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.


Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya (lagi…)

Diterbitkan di: on Januari 9, 2009 at 4:13 am Komentar (6)
Tags: , , ,

Celoteh Antek Teroris Israel Dibungkam Anggota Dewan

Di tengah keganasan tank-tank dan mesiu serdadu teroris Israel terhadap warga Palestina, pentolan Jaringan (Islam) Liberal/JIL, Dr. Luthfie Assyaukani kepincut dengan keindahan bumi kaum zionis Israel. Pengajar Universitas Paramadina ini memuji dan kagum terhadap “keserakahan” penjajah dunia itu.

Sayang seribu satu sayang, pandangan sebelah mata Luthfie itu dibantah Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP) Abdillah Toha. Menurut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, Luthfie salah dalam melihat agresi teroris Israel terhadap Palestina. “Atau ia punya agenda dengan Israel.”
Luthfi Assyaukanie: Beberapa Catatan dari Israel

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel . Banyak hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya “more jewish than me.” Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang Israel . Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab.

Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel . Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel. Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor-kantor imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi (lagi…)

Diterbitkan di: on at 4:03 am Komentar (3)
Tags: , , , ,

Nice Lesson

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari
dalam kehidupan berumah tangga,

kalau ada seseorang berkata:

“Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !”

Kemungkinannya dua,

boleh jadi dia belum beristeri,
atau ia tengah berdusta.

Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu,

sebagaimana lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar.

Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi,

hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.

Kalau tahu etikanya,

dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah,

betapa tidak,

justru dalam pertengkaran,

setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam,

yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi,

pesan-pesannya terasa kental,

lebih mudah dicerna

ketimbang basa basi tanpa emosi.

Tulisan ini murni non politik,

jadi tolong jangan tergesa-gesa membacanya.

Bacalah dengan sabar,

lalu renungi dengan baik,

setelah itu…terapkan dalam keseharian kita…….

setuju friends…?!

…..Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi teman hidupnya,

dan salah satunya bertanya;

apakah ia bersedia berbagi masa depan dengannya,
dan jawabannya tepat seperti yang diharap.


Mereka mulai membicarakan :

seperti apa suasana rumah tangga ke depan.

Salah satu diantaranya adalah

tentang apa yang harus dilakukan kala mereka bertengkar.

Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya,

tibalah mereka pada sebuah
”Memorandum of Understanding”,
bahwa kalaupun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah

Cukup seorang saja yang marah-marah,

yang terlambat mengirim sinyal
nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda.

Untuk urusan marah pantang berjama’ah,

seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah.

Ketika seorang marah dan saya mau menyela,

segera ia berkata “STOP”
ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar.

Sambil menahan senyum saya
berkata dalam hati :

“kamu makin cantik kalau
marah,makin energik …”

Dan dengan diam itupun

saya merasa telah beramal sholeh,

telah menjadi jalan bagi tersalurkannya

luapan perasaan hati yang dikasihi…

“duh kekasih .. bicaralah terus,

kalau dengan itu hatimu menjadi lega,

maka di padang

kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya

“yang olahraga otot muka”,

saya menganggap bahwa distorsi hati,

nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah,

ia harus segera dibuang, agar tak menebar kuman,

dan saya tidak berani marah sama siapa siapa
kecuali pada isteri saya

Maka kini giliran dia yang harus bersedia

jadi keranjang sampah.
pokoknya khusus untuk marah,

memang tidak harus berjama’ah,

sebab ada sesuatu yang lebih baik

untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja,

jangan ungkit yang telah terlipat masa

(maksudnya masa lalu kita)

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya,
pasti terpojok,

sebab masa silam adalah

bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.

Siapapun tidak akan suka

dinilai dengan masa lalunya.

Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan.

Dalam bertengkar pun

kita perlu menjaga harapan

dan bukan menghancurkannya.

Sebab pertengkaran

di antara orang yang masih mempunyai harapan,

hanyalah sebuah foreplay,

sedang pertengkaran dua hati yang patah asa,

menghancurkan peradaban cinta

yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Jadi, kalau mau marah…ingat jangan berjamaah yach….

Kan masih banyak yang bisa dikerjakan dengan berjamaah,

Misalnya…Makan, Nonton, dan tentu saja Shalat berjamaah, iya kan…?

Diterbitkan di: on Januari 7, 2009 at 6:32 am Tinggalkan sebuah Komentar