Pertanyaan itu masih sering saya dengar dari teman-teman yang pernah membaca artikel tentang istilah, atau setidaknya pernah berkenalan dengan “makhluk” ini. Sebuah pertanyaan yang mendasar, sebab nama ilmu yang ‘aneh’ ini memang seringkali membuat para pendengarnya bertanya-tanya apa sih sebenarnya makhluk bernama NLP ini.
Pemahaman ini tidak dimulai dari penjabaran istilah atau definisi rumit yang membuat kepala Anda pusing tujuh keliling. Sederhananya dapat kita ikuti dari latihan berikut ini. Bersiap-siaplah!!!
Meskipun latihan ini bisa dilakukan dengan mata terbuka, namun bagi beberapa orang menutup mata akan memberikan hasil yang lebih mengesankan. Tanyakan pada diri Anda, termasuk dalam kategori manakah Anda?!
OK, dengan membuka atau menutup mata, sekarang, dengarkan kalimat berikut ini diucapkan dari kedua telinga Anda, “Anda adalah orang paling baik yang pernah saya kenal.”
Sudah? Ulangi hingga 3 kali.
Nah, apa gambaran atau perasaan yang muncul dalam diri Anda demi mendengar kalimat tersebut?
OK, mari kita lanjutkan. Membuka atau menutup mata, sekarang, dengarkan kalimat, “Saya adalah orang paliiiiiiiiiing bahagia di dunia ini.”
Ho ho, apa lagi yang muncul kali ini?
Hmm…bagaimana dengan kata-kata ini, “Rasakan makanan termanis yang pernah Anda rasakan.”
Upss, maaf, kalau kalimat terakhir ini membuat air liur Anda menetes
Sebuah pengalaman yang umum, bukan? Hanya sebuah kalimat sederhana, ternyata, tidak bisa tidak, pasti memicu respon dalam pikiran-perasaan-tubuh Anda tanpa bisa dilawan. Tidak percaya? Teruslah membaca artikel ini, dan tandai apakah Anda bisa tidak memunculkan respon apapun.
Ah, agak sulit ya? Cobalah lebih keras. Saya tahu Anda bisa!
Nah, dari latihan sederhana ini, kita akan melanjutkan ke pembahasan tentang definisi NLP ditilik dari kepanjangannya, Neuro-Linguistic Programming. Ya, kata neuro dan linguistic memang disambungkan dengan “-“ dengan maksud tertentu. Apa kah itu? Sebentar lagi ya. (lagi…)
Terapi hipnosa dipercaya mampu membantu untuk mengurangi intensitas perilaku yang menyimpang seringkali merupakan perilaku kebiasaan ( habits ), termasuk di dalamnya adalah perilaku merokok ( Hukom, 1979 ). Perilaku yang sudah berlangsung sejak lama sehingga bagi amat sulit untuk bisa melepaskan diri.
Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman kampus melakukan perjalanan ke Surabaya dan Bali dalam rangka Study Excursion yang diadakan oleh Jurusan kami. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya pada pukul 2 dini hari, kami tiba di hotel. Setelah merapikan barang bawaan, kami pun memutuskan untuk tidur, sebelum mengikuti agenda keesokan harinya. Di kamar hotel yang berukuran kira-kira 6×4 meter,dihuni oleh 3 orang termasuk saya. Salah satu teman sekamar saya mengaku bahwa ia tidak terbiasa mematikan lampu pada saat tidur, dan tentu saja hal itu merupakan masalah bagi saya yang terbiasa mematikan lampu atau setidaknya menggunakan lampu dengan pencahayaan minim. Dia tidak bisa tidur dalam keadaan lampu dipadamkan, serasa sesak, begitu kata dia. Sementara saya pun tidak bisa terlelap dalam keadaan lampu yang terang benderang. Akhirnya, setelah perdebatan panjang, saya pun mengalah, dan kami semua tidur di bawah siraman cahaya, serasa ada sederet lampu neon yang mengawasi tidur saya sepanjang malam itu. Oh Tuhan…