Kata orang bijak,
‘Kebanyakan orang tidak sadar
bahwa ia masih terpaku
di depan pintu yang tertutup,
padahal ada pintu-pintu lain
yang masih terbuka dan menantinya’.
Sebenarnya sudah lama kutinggalkan
pintu yang tertutup itu, dan
sudah berkali-kali kucoba melangkahkan
kakiku ke pintu lain,
tapi setiap kali kucoba mengetuk,
yang kulihat hanya pintu tertutup itu lagi.
‘Bagaimana tidak,
kau telah membuat duplikat dari pintu yang tertutup itu
dalam jumlah yang tak terbatas di hatimu.
Cobalah membatasi jumlahnya,
maka kau akan temui pintu yang lain’.
Syukurlah, aku telah menemukan pintu yang lain
Kucoba mengetuk, kuketuk dan kuketuk lagi
Berkali-kali kuketuk, lamaaa…tidak terbuka
Setelah terbuka, baru kusadari
Kalau aku mengetuknya dari dalam.
‘Lalu?
Yang kulihat hanya kebisuan yang menyapa
dari tatapan kosong seonggok tubuh,
yang terpaku di depan pintu.
‘Siapa dia?’
Tak tau,
Siapa dia?
Siapa aku?
Yang kudapati, hanya diriku
yang terpaku di depan pintu yang tertutup.
Kucoba mencari pintu lain,
Tapi setiap kali kucoba mengetuk,
Yang ada hanya aku dan pintu tertutup itu lagi!
Siapa sangka kalau aku begitu beruntung,
saat kutemukan pintu lain,
kucoba mengetuk, kuketuk dan kuketuk lagi,
tapi tak ada jawaban.
Lalu kucoba membukanya, ternyata
aku mengetuknya dari dalam!
‘Apa maksudmu?,
Apa yang terjadi denganmu?’
Entahlah, apa yang terjadi?,
Aku juga lelah!
Tapi sekarang, tak ada siapa-siapa.
Semuanya tak berpintu.
Yang kudapati kini, hanya diriku!
Ya!
Aku!
Aku yang terjebak, diantara
Dinding, dinding, dinding dan dinding!
Kucoba mencari pintu, tapi
celah pun tak kudapatkan!
Kemana semua pintu-pintu itu?
Atau setidaknya pintu yang tertutup itu!
Kemana?
Kuputari lagi tiap-tiap sudutnya,
tapi tak ada satu pun pintu kudapati,
bahkan pintu tertutup itu!
Entah dimana?
Tetap saja, yang ada hanya aku, diantara
Dinding, dinding, dinding dan dinding,
tanpa pintu!
Semuanya kini tak berpintu,
Tak ada lagi pintu!
Pintu!
“FR-211204”
