Meringkuk, terlipat
Di sudut ruang
Didekap erat selimut malam
Adakah setetes hangat yang membelai, atau
Sekedar temaram yang menyapa
Setidaknya semburat benang cahaya
Hanya dingin dan gelap
Menemukan jasadmu,
Selebihnya hanya sepi
Merintih, terkikis
Di sudut jiwa
Dicumbu lembut bisikan angin
Adakah setitik cinta yang mengalir, atau
Sekedar rindu yang mengetuk-ngetuk
Paling tidak gelisah yang hadir
Hanya jejak dan angan
Yang kau bingkai
Sisanya hanya wajahnya yang terurai
Mencoba bangun dari tidur panjangmu
Kaki-kakimu berdiri gontai di atas bukit hatinya
Memikul beban cinta yang terlalu dalam
Engkau dipeluk gelap
Menyulam bait-bait kerinduan
Tercekat, diayun bimbang tak berkesudahan
Tersedak sejuta kenangan,
Tentang harapan yang menggantung di jiwa
Semuanya luluh lunglai tanpa kata-kata
Engkau gemetar dalam genggamannya
Hanya ada rasa yang terus menguras air cintamu,
Untuknya…
Betapa hampa dicampakkan bayang
Betapa kosong ditampik waktu
Menyeretmu dalam lelucon samar hidup ini
Betapa siang mendakwamu
Betapa malam menghakimimu
Menderamu hidup-hidup
Ini hari kau pandangi diri di cermin
Dan pilu –kau sendiri,
Wanitamu tak kembali
Tertawalah di sudut air matamu
Mengangislah di gelak tawamu
Tapi tutupilah pintu wajahmu
Agar tak diucapkan kemudian
Pencinta itu adalah engkau
Yang putus asa, itu saja!
*Sederet gerombolan kata-kata dari seorang kawan di sudut malam, untuk kawan lainnya di sudut ruang.
“FR-180908”