Sepenggal Luka Sang Pencinta*

Meringkuk, terlipat

Di sudut ruang

Didekap erat selimut malam

Adakah setetes hangat yang membelai, atau

Sekedar temaram yang menyapa

Setidaknya semburat benang cahaya

Hanya dingin dan gelap

Menemukan jasadmu,

Selebihnya hanya sepi

Merintih, terkikis

Di sudut jiwa

Dicumbu lembut bisikan angin

Adakah setitik cinta yang mengalir, atau

Sekedar rindu yang mengetuk-ngetuk

Paling tidak gelisah yang hadir

Hanya jejak dan angan

Yang kau bingkai

Sisanya hanya wajahnya yang terurai

Mencoba bangun dari tidur panjangmu

Kaki-kakimu berdiri gontai di atas bukit hatinya

Memikul beban cinta yang terlalu dalam

Engkau dipeluk gelap

Menyulam bait-bait kerinduan

Tercekat, diayun bimbang tak berkesudahan

Tersedak sejuta kenangan,

Tentang harapan yang menggantung di jiwa

Semuanya luluh lunglai tanpa kata-kata

Engkau gemetar dalam genggamannya

Hanya ada rasa yang terus menguras air cintamu,

Untuknya…

Betapa hampa dicampakkan bayang

Betapa kosong ditampik waktu

Menyeretmu dalam lelucon samar hidup ini

Betapa siang mendakwamu

Betapa malam menghakimimu

Menderamu hidup-hidup

Ini hari kau pandangi diri di cermin

Dan pilu –kau sendiri,

Wanitamu tak kembali

Tertawalah di sudut air matamu

Mengangislah di gelak tawamu

Tapi tutupilah pintu wajahmu

Agar tak diucapkan kemudian

Pencinta itu adalah engkau

Yang putus asa, itu saja!

*Sederet gerombolan kata-kata dari seorang kawan di sudut malam, untuk kawan lainnya di sudut ruang.

FR-180908”

Telah Terbit on Maret 21, 2009 at 2:32 pm Tinggalkan sebuah Komentar

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://firariswiyandi.wordpress.com/poetry/sepenggal-luka-sang-pencinta/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Leave a Comment