Secangkir Teh Hangat

Malam-malam panjang yang dingin, kaku

Hati kecil meronta, bertanya, kekasih kecil

Apa yang kau pikirkan dari secangkir teh hangat?

Entahlah…

 

                  Andai ia tahu,

                  Secangkir teh hangat itu

                  Meluluhkan hati yang bertahun-tahun beku.

 

                  Dan andai ia tahu,

                  Nikmatnya secangkir teh hangat

                  Bagai embun membasahi rumputan kering-kerontang.

 

Hujan menghentak, mendesah, merintih

Jiwa tercabik, tersayat, menangis

Apa yang kau rasakan dari secangkir teh hangat?

Entahlah…

 

                  Kalau saja ia tahu,

                  Setiap  tetes dari secangkir teh hangat, adalah

                  Air mata yang mengalir dari jiwa yang luka

 

                  Dan andai ia tahu,

                  Manisnya secangkir teh hangat, sama

                  Perihnya duka dalam murninya kasih sayang

 

Langit kosong melompong, tak bertepi

Bulan pun merajuk, bintang tak menemani pula

Apa yang kau lihat dari secangkir teh hangat?

Tak ada…

 

                  Seandainya ia tahu,

                  Secangkir teh hangat itu, sekarang

                  Hanya tinggal kekosongan yang menganga

 

                  Kalau saja ia tahu,

                  Aku menangis untuk secangkir teh hangat

                  Yang terdiam dan membisu

 

Sudahlah, lagipula

Cangkirnya kini tak lagi bening

Warna teh-nya pun sudah berubah

Dan airnya juga tak lagi hangat

 

                  Andai ia tahu,

                  Betapa aku inginkan secangkir teh hangat

                  Betapa butuhnya aku akan secangkir teh hangat

 

                  Jikalau ia tahu,

                  Aku tak bisa apa-apa, apa daya

                  Aku tak tau apa-apa

 

Rangkaiannya tak lagi sempurna…

 

                  Rasanya asing, terkadang tak berasa

                  Namun kadang juga terlalu manis di lidah

 

Hangatnya pun sudah tak terasa di jiwa

Sering juga panasnya menusuk sukma

 

                  Sentuhan aromanya pun tak mampu lagi membujuk

                  Namun terkadang menghentakkan hidung bangirku

 

Semua melodinya tak seindah dulu, entah bagaimana…

Apa aku lupa cara menyuguhkan secangkir teh hangat

Entahlah, aku juga lelah…

Untuk secangkir teh hangat saja terasa begitu sulit.

 

                  Malam ini tak lagi kunikmati, secangkir teh hangat

                  Seperti hari-hari sebelum kisahku, tentang

                  Kenyataan tak berpihak padaku

 

Seandainya ia tahu, Tuhan

Aku mencintainya, seperti

Secangkir teh hangat

 

Aku tidak akan pernah, menyuguhkan

Puisi ini hanya untuk

“Secangkir Teh Hangat”

 

“FR-230704”

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://firariswiyandi.wordpress.com/2008/04/16/secangkir-teh-hangat/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: