Jebakan-jebakan dalam Teori Kepribadian

Ada beberapa jebakan yang penting diperhatikan kalau kita ingin membangun teori sendiri tentang orang dan kepribadiannya, yaitu:

1. Etnosentrisme ~ kebudayaan atau lingkungan yang begitu mempengaruhi kita.

2. Egosentrisme ~ keunikan yang dimiliki pribadi teoritikus itu sendiri

3. Dogmatisme ~ sebagai manusia, agaknya kita punya kecenderungan alamiah untuk bersikap konservatif: kita cenderung berpegang teguh pada apa yang telah berhasil di masa lalu. Dalam menanggapi kritik: cenderung menggunakan logika sirkular dalam mempertahankan pendapatnya.

4. Salah paham ~ setiap kali kita mengatakan sesuatu, tahukah kita sedang membiarkan kata-kata kita dapat ditafsirkan menjadi lebih dari 100 tafsiran?! Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan salah paham, yaitu:

a. Penerjemahan, dalam artian bahasa

b. Neologisme, atau penggunaan istilah/kata baru
c. Metafor

5. Bukti ~ hal ini mengacu pada beberapa bentuk bukti dalam kerangka membangun teori kepribadian:
a. Anekdotal ~ dalam bentuk kisah atau cerita

b. Klinis ~ ketika menjalankan terapi

c. Fenomenologis ~ lahir dari pengamatan seksama terhadap seseorang dalam berbagai keadaan, termasuk kondisi psikologis pengamat itu sendiri.

d. Riset korelasional ~ penciptaan dan pemakaian tes-tes kepribadian

e. Riset eksperimental ~ yang paling terkontrol dan akurat, eksperimentasi mencakup pemilihan subjek secara acak, kontrol melekat terhadap kondisi subjek, perhatian besar terhadap pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan terhadap subjek dan biasanya juga memakai teknik pengukuran dan statistik. Tapi kelemahannya, kadang-kadang tidak mempan terhadap beberapa isu yang justru sangat menarik perhatian teoritikus kepribadian. Bagaimana Anda dapat mengotrol dan mengukur hal-hal seperti cinta, marah atau kesadaran?!

6. Asumsi-asumsi filosofis:

a. Kebebasan vs ketidakbebasan (free will vs determinism)
~Penganut determinisme moderat mungkin akan mengatakan, walaupun kita pada dasarnya terikat keadaan, namun kita dapat peran dalam determinisme itu sendiri. Sementara penganut free will mengatakan bahwa kebebasan adalah hal yang menyatu dengan hakikat kita sebagai manusia, tapi kita harus menerapkan hakikat itu di dalam dunia yang justru mengikatnya.

b. Keunikan vs keuniversalan (uniqueness vs universality)
~Apakah setiap pribadi itu unik, ataukah kita akhirnya akan menemukan sebuah hukum universal yang mampu mejelaskan segala bentuk perilaku manusia?

c. Dorongan jasmaniah vs motivasi tujuan (physiological vs purposive motivation)
~Apakah kita lebih “didorong” oleh kebutuhan-kebutuhan jasmani kita yang paling dasar –seperti makan, air, dan aktivitas seksual-? Ataukah kita justru “ditarik” oleh tujuan, target, nilai, prinsip, dan sebagainya yang ada di depan kita?

d. Motivasi sadar vs motivasi alam bawah sadar (conscious vs unconscious motivation)
~Apakah sebagian, atau bahkan keseluruhan, perilaku dan pengalaman kita dikendalikan oleh daya-daya alam bawah sadar, artinya daya-daya yang tidak kita sadari? Ataukah sebagian, atau bahkan tidak sama sekali, yang dikendalikan oleh daya alam bawah sadar itu?

e. Alami vs buatan (nature vs nurture)
~Apakah kita harus berpatokan pada asal usul genetik (nature) atau pada apa yang kita peroleh dari pengalaman (nurture)?

f. Teori perkembangan bertahap vs teori perkembangan tidak bertahap
~apakah kita semua melewati tahap-tahap perkembangan yang tidak terikat dan ditentukan oleh apa pun. Memang kita semua melewati tahap-tahap perkembangan jasmaniah tertentu –seperti tahap menyusui (fetal), kanak-kanak, pubertas, dewasa, pikun- yang kesemuanya dikendalikan oleh unsure gentik. Apakah dengan begitu hal yang sama juga berlaku pada perkembangan ruhani (kejiwaan)?

g. Determinisme cultural vs transendensi cultural
Sejauh mana kebudayan mempengaruhi kita? Ataukah kita mampu “melangkah keluar” (transendensi) dari pengaruh-pengaruh tersebut?

h. Pembentukan kepribadian dini vs pembentukan kepribadian terlambat
~Apakah karakter kepribadian kita terbentuk waktu kita masih anak-anak, yang kemudian relative tidak berubah sepanjang umur kita? Ataukah karakter kepribadian itu semakin lama semakin rumit seiring pertambahan usia?

i. Pemahaman gangguan jiwa yang kontinu vs pemahaman gangguan jiwa yang diskontinu
~apakah gangguan jiwa adalah persoalan tingkatan? Apakah orang-orang yang sakit jiwa hanyalah orang-orang biasa yang menarik segala sesuatu ke titik ekstrem? Apakah mereka hanya orang-orang eksentrik yang ingin menyakiti dirinya sendiri atau orang lain? Atau sebaliknya, adakah perbedaan kualitatif yang mendasari cara mereka mencerap realitas?

j. Optimisme vs pesimisme
~haruskah kita berharap tentang apa yang akan terjadi sesuai dengan harapan kita ataukah tidak mempedulikannya sama sekali? Haruskah kita mengharapkan datangnya bantuan atau membiarkan segalanya begitu saja?

Iklan

The URI to TrackBack this entry is: https://firariswiyandi.wordpress.com/2008/12/26/jebakan-jebakan-dalam-teori-kepribadian/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. tolong di jelasin secara mendetail lagi. coz bagi aku anak yang masih SMA harus mengetahui lebih jelas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: