Amanah

                Akhirnya manusia memberanikan diri memikul beban amanah itu. Sungguh sebuah keberanian yang spektakuler. Karena ia lahir justru ketika semua peserta alam raya lainnya langit, bumi, dan gunung-gunung menolaknya. Tak satu pun dari mereka yang mempercayai kemampuannya membawa amanah mahabesar itu.

Ternyata hidup adalah sebuah pertanggung-jawaban. Ia bukan permainan. Sebab ia diberikan kepada kita atas dasar sebuah perjanjian mahasakral dengan Allah, Sang Pencipta kehidupan. Dan bumi ini, tempat dimana kehidupan manusia disemaikan, adalah panggung pementasan amanah.

Tiap detik yang kita lalui di lorong waktu kehidupan ini adalah jenak-jenak yang harus dipertanggung-jawabkan di depan Allah. Setiap sisi ruang dan waktu harus merupakan implementasi ‘ibadah’ total kepada Allah. Sebab hanya dalam kerangka itu, semua gerak kita memperoleh makna hakiki di mata Allah.

Dalam visi seorang Muslim, ibadah itu diterjemahkan dalam dua kata: imarah dan khilafah. Inilah amanah besar yang dibebankan ke pundak manusia. Dan untuk amanah itu pula, Allah berkenan meniupkan nafas kehidupan ke dalam raga manusiawi kita.

Sesungguhnya tingkat kesadaran kita terhadap hakikat ini akan menentukan tingkat ‘intensitas’ kehadiran jiwa dalam menjalani hidup. Sebab kesadaran itulah yang mengikat jiwa kita secara terus-menerus dengan misi penciptaan kita. Seperti mata, jiwa yang memiliki kesadarn begini, selamanya akan terbuka membelalak menatap setiap jejak langkahnya.

Begitulah pada mulanya kesadaran amanah itu hinggap dalam jiwa dan akal Rasulullah SAW. Seterusnya ia menulari jiwa dan akal sahabat-sahabat beliau. Dan dari telaga kesadaran inilah mereka meneguk mata air kecemerlangan. Sebab air telaga itulah yang memberi ‘dorongan dan tenaga jiwa’ yang tak pernah kering.

Nyaris tak pernah kita dengarkan, bahwa usia dan semua hambatan duniawi lainnya merintangi gejolak jiwa mereka untuk berkarya dan berkarya bahkan dalam proses berkarya, memberi dan lelah karenanya, maka justru menemukan makna kehadiran mereka di panggung kehidupan ini, sesuatu yang memberi mereka kelezatan jiwa.

Obsesi amanah itu telah melepaskan jiwa merka dari lingkarang ketegangan daya tarik kehidupan duniawi. Sebab sesunngguhnya berkarya dan memberi itu adalah menapaki tangga menuju langit ketinggian. Dan hambatan terbesar yang akan selalu ‘memberatkan’ langkah kita adalah daya tarik dunia.

Kita tidak akan memperoleh ‘keringanan’ jiwa untuk berkarya dan memberi kecuali ketika kita berhasil membebaskan jiwa kita dari lingkaran ketegangan daya tarik duniawi itu. Dan untuk pembebasan itu, selain faktor imaniyah lainnya, kesadarn akan amanah kehidupan ini merupakan kekuatan pembebas yang sangat kuat.

Bila suatu ketika engkau berkesempatan berdekat-dekat dengan jiwa, rasakanlah bahwa ada jenak-jenak dimana talikecapi nuranimu bergetar menyenandungkan hakikat kehidupan ini. Dan bila engkau mendengarnya dengan telinga hatimu, engkau akan menemukan pesan menuju ketinggian.

Disadur dari ‘Arsitek Peradaban’ nya Anis Matta

Iklan
Telah Terbit on Juli 31, 2008 at 5:35 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://firariswiyandi.wordpress.com/article/amanah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: